Selasa, 22 April 2014

Miniatur Potret Daerah di Ujung

Setiap ada kesempatan di akhir pekan, aku bersama adik-adikku biasanya pergi jogging. Kami tidak pernah jogging di sekitar rumah, kami selalu  mencari tempat jogging yang agak jauh dari rumah. Salah satu komplek perumahan ternama di kotaku sering menjadi tempat tujuan kami.
Komplek perumahan ini  menyuguhkan pemandangan yang sangat asri dari luar. Artis-artis lokal sering pemotretan dan syuting di tempat ini. Developer membangun komplek perumahan ini dengan setting membentuk sebuah kota dalam kota. Ya, komplek perumahan ini merupakan kota kecil dalam kota. Disamping hunian, juga ada taman, sekolah, tempat wisata, tempat olahraga, kafe-kafe, dan juga pusat pertokoan yang masih dalam tahap pembangunan.
Di tengah komplek perumahan ini juga menghadirkan danau yang cukup luas. Dengan pohon-pohon di sekitarnya. Aku sendiri sering siang-siang pergi bersantai duduk di bawah pepohonan itu sendirian sambil membaca buku dan menikmati es krim, hemmm suasana yang sangat menyejukkan. Semilir angin menyentuh jilbabku.
Bagiku dan adik-adikku berkeliling jogging disekitar komplek ini sangat menyenangkan. Suasananya yang jauh dari jalan raya membuat kami merasa nyaman dan aman berolahraga disini. Kadang kala sehabis olah raga kami duduk santai bersila atau berselunjur kaki di pinggiran danau atau di lapangan golf untuk berdiskusi tentang keseharian kami atau tentang hal-hal yang menarik bagi kami.
Hari ini kami sangat tertarik untuk jogging sampai ke ujung jalan perumahan, dimana di ujung perumahan itu ada sebuah Sekolah Islam Terpadu yang kabarnya cukup elit sesuai dengan citra elit komplek perumahan ini. Semakin berjalan ke ujung kami menyaksikan hal yang cukup membuat kami tersentak kaget. Komplek ini yang terlihat sangat menawan dari luar ternyata di lingkungan penghujung komplek ini gersang bahkan kumuh. Pembuangan sampah yang tidak tertata, bau, dan pemandangannya jauh dari indah. Ironisnya, lingkungan yang seperti itu berdekatan dengan bangunan sekolah.
Adikku pun bergumam, “Hmmm… Indonesia banget ya…”.
Kami pun berdiskusi tentang fakta menarik ini. Tentang negeri kita yang masih dalam tahap pembangunan sampai ini. Yang kata Presiden kita “Demokrasi negeri ini masih belum dewasa”, meskipun usia negeri ini sudah 69 tahun, cukup tua tapi masih mengkanak-kanak. Itulah negeri kita Indonesia.
Indonesia merupakan negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah dan kuantitas sumber daya manusia yang banyak, namun tidak berbanding lurus dengan kualitasnya. Meskipun 69 tahun sudah merdeka pembangunan di negeri ini belum juga terjadi pemerataan. Pembangunan hanya megah di kota-kota, tapi di pelosok daerah jalan-jalan dan jembatan saja masih banyak yang rusak, fasilitas-fasilitas umum banyak yang tidak memadai bahkan tidak tersedia, bangunan sekolah yang tidak layak menjadi tempat anak-anak belajar, tidak tersedianya fasilitas untuk menunjang bakat anak, lingkungan yang tidak terpelihara dan banyak kekurangan-kekurangan serta masalah-masalah lain yang hadir di negeri ini.
Nampak indah dari luar, tapi semakin ke ujung semakin tak terpelihara, semakin terabaikan. Itulah potret negeri ini. Kebijakan pembangunan yang masih belum merata menjadi ketimpangan social dan ketimpangan kesejahteraan yang sangat jauh antara ibukota dengan didaerah-daerah. Aku jadi teringat dengan kata-kata tanteku yang berprofesi sebagai guru  yang tinggal di daerah.
“Kerja di daerah ini santai Er, gak banyak tanggung jawabnya kaya ngajar di kota”.
“Kan kurikulumnya sama aja Cil”, sahutku “Lagian kan pemerintah sekarang ketat katanya monitoringnya Cil”
“Mana ada Er, Pemerintah yang mau cape-cape monitoring ke daerah yang jauh kaya gini” timpal tanteku.
Begitulah potret negeri kita,  Indonesia. Semakin jauh dari ibukota pemerintahan semakin terabaikan. Maka tidak salah kalau pulau-pulau terluar negeri ini yang tidak terpelihara akhirnya malah dimiliki oleh negeri tetangga.

Aku dan Sahabatku


Namanya Masliati biasa dipanggil Lia, aku bertemu dengannya saat aku mencari tempat kos di wilayah kayu tangi. Sebagai mahasiswa baru disalah satu PTN di Banjarmasin aku sangat senang karena mendapatkan kenalan baru pada waktu itu.
Setiap acara penyambutan mahasiswa baru (maba), aktivis kampus yang berasal dari berbagai gerakan organisasi mengadakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Salah satu kegiatan yang diadakan adalah memberikan layanan pendampingan mencari tempat kos tuk maba. Aku yang dari awal mendaftar kuliah sampai registrasi  sendirian dan tidak begitu mengenal wilayah Kayu Tangi memutuskan menghubungi salah satu contact person yang ada dalam kegiatan itu. 

Meskipun jumlah kos di Kayu tangi sangat banyak, ternyata tidak berimbang dengan jumlah mahasiswa yang memerlukan tempat kos. Saat itu aku bersama kak Leny mahasiswa jurusan Bahasa Inggris angkatan 2002 berkeliling tuk mencari kos. Tibalah aku di kosnya Lia, di kos ini pertama kali aku diperkenalkan dengannya. Awalnya kami mengira akan menjadi teman 1 kos karena ada kamar yang akan kosong 1 bulan ke depan. 

Sambil  menunggu kamar kos itu kosong aku tinggal bersama kak Leny di Komplek Kayu Tangi 2. Kos yang berupa rumah bidak 2 pintu. Di rumah bidak itu aku tinggal bertiga bersama dengan  Kak Leny dan Kak Tati. Mereka adalah aktivis gerakan mahasiswa muslim eksternal kampus. Rumah bidak sebelah jadi sekretariat gerakan itu dan dihuni oleh kak Tiyah. Mereka semua baik kepadaku tidak menganggapku seperti orang lain, memperlakukanku seperti adik mereka sendiri. Sampai akhirnya waktu 1 bulan itu tiba. Dan ternyata kos Lia itu tidak jadi kosong karena penghuninya tidak jadi keluar, akupun mencari kos yang lain.

Pertemuanku dengan Lia di kosnya waktu pertama kali seperti energy yang selalu mempertautkan kami. Sejak saat itu kami menjadi sahabat yang disatukan Allah karena keimanan.
Masliati, seorang gadis berkulit putih, tidak terlalu lembut dan juga tidak kasar tapi tegas. Perawakannya lebih tinggi dari ku. Dia berasal dari Batulicin berdarah Amuntai. Berbeda denganku yang memiliki saudara banyak, dia adalah anak tunggal. Kami dibawah satu payung naungan yang sama, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial namun berbeda program studi, Lia di Pendidikan Ekonomi dan aku  Pendidikan Kewarganegaraan.

Pada semester awal perkuliahan, aktivitasku tidak padat. Kuliahku yang hanya berkisar dari senin sampai kamis dengan jadwal yang padat ditambah dengan keadaanku yang masih beroreintasi dengan suasana kampus membuatku menjadi mahasiswa yang study oriented. Tidak ada yang terlalu istimewa dengan aktivitasku waktu itu, tidak seperti apa yang kubayangkan saat SMA kalau perkuliahan itu akan dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas keorganisasian yang sangat padat.
Aku termasuk mahasiswa yang cepat beradaptasi dan cepat dalam memahami perkuliahan. Meskipun tergolong baru, aku termasuk mahasiswa yang aktif dalam setiap perkuliahan di kelasku. Teman-teman baruku sering kaget ketika tiba-tiba aku mengacungkan tangan saat diskusi atau heran saat aku terlalu antusias menjelaskan tentang suatu hal dalam perkuliahan, karena sejatinya aku termasuk mahasiswa baru yang pendiam waktu itu. 

Aku dengan Lia termasuk mahasiswa yang aktif di kelas saat perkuliahan. Meskipun program studi kami berbeda, pada mata kuliah umum kami sering tergabung. Waktu pertemuan kami pun terbatas waktu itu. Kami berteman dengan baik.

Pada semester 2 masa perkuliahan aku memutuskan untuk aktif mengikuti sebuah kelompok kecil pengajian atau yang biasa disebut halaqah dan aktif tuk menjadi anggota organisasi keislaman tingkat fakultas. Seperti jodoh, semuanya atas kehendak Allah, aku dengan Lia pun dipertautakn dalam setiap kegiatan yang aku ikuti.

Dalam perhalaqahan itu aku tergabung bersama Lia, Kak Uwi dan Kak Ayu, Musyrifah atau pembina kami waktu itu adalah Kak Mala yang selanjutnya diteruskan oleh Kak Amali (tentang mereka akan penulis ceritakan pada kesempatan lain). Halaqah kami rutin 2 kali seminggu. Dalam halaqah ini selain kami mengkaji tentang pemikiran dan berbagai hal tentang keislaman kami selalu rutin untuk mensharingkan tentang aktivitas keseharian kami. Aku dan Lia pun semakin akrab, bahkan kami sudah seperti saudara.

Sejak saat itu kami merencanakan tentang kegiatan-kegiatan yang akan kami adakan di kampus. Kami bertekad untuk benar-benar menjadi agent of change ditengah kalangan mahasiswa yang terlalu egois mementingkan diri sendiri dan masa bodoh terhadap kondisi kekinian masyarakat yang semakin merosot dari segi akhlak dan tingkat  kesejahteraan. Lingkungan program studi menjadi titik awal kami dalam melakukan gerakan perubahan. Membentuk sebuah kelompok studi islam(KSI) di tingkat prodi adalah awal bentuk riil upaya kami. Dengan berbagai cemo’ohan dari teman di prodi kami tetap optimis menjalankan niat baik kami. Tentunya dengan kondisi prodi yang berbeda, tantangan yang kami hadapi pun berbeda. Lia menjadi Ketua Akhwat di KSI Al Iqtishodi Prodi Pend. Ekonomi dan aku menjadi Ketua Akhwat di KSI Shira ‘al fikr Prodi Pend. Kewarganegaraan. Segala hal yang kami alami selalu kami sharingkan di kelompok kecil kami, kehadiran Kak Mala sangat inspiratif bagi kami tuk menjalankan misi-misi kami selanjutnya.

Kami mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan keorganisasian kami, baik organisasi di tingkat fakultas maupun di tingkat prodi ini. Berbagai bentuk kegiatan kami lakukan, mulai dari mengembangkan opini keislaman, memberikan penyadaran tentang isu-isu kekinian di kampus dengan membagi selebaran, menempel pamplet, mengadakan pengajian, menghidupkan diskusi di kampus, dan yang paling penting adalah mengkader mahasiswa tuk bergerak bersama kami. Lebaran idul fitri di tahun 2006 merupakan lebaran pertama kali kami saat di KSI. Kami bekerja sama untuk membuat sebuah Kartu Lebaran. Sehari sebelum kami libur panjang tuk lebaran idul fitri kami membagikan kartu lebaran itu ke seluruh dosen-dosen kami dan organisasi-organisasi yang ada di fkip sebagai bentuk sosialisasi keberadaan KSI kami. Aku dan Lia pun berpisah untuk menikmati libur panjang kami. Lia pulang ke Batulicin dan aku ke kabupaten Banjar.

Lia yang dulunya pernah menjadi kandidat Galuh Banjar untuk tingkat Provinsi Kalimantan Selatan mewakili daerahnya menjadi seorang aktivis pergerakan di kampus. Sosoknya yang tegas dan visioner membulatkan tekadnya untuk mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat Ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) Pend. Ekonomi. Dengan persaingan yang sangat ketat karena ada dua kandidat yang juga cukup berpengaruh di prodinya Lia pun terpilih menjadi Ketua HIMA 2007-2008.
Aku pun mengembangkan perjuanganku di kampus dengan berhasil membentuk sebuah kelompok diskusi tingkat prodi yang diberi nama CEC (Civic Education Club). Tentunya perjuangan ini tak sepi lagi, pengkaderan yang sudah dijalankan sejak membentuk KSI membuahkan hasil. Bersama sahabatku satu angkatan di tingkat prodi, Iffah dan beberapa orang adik tingkat ku kami menjadikan CEC ini membumi di lingkungan prodi. Setiap selasa siang rutin kami mengadakan diskusi dan dialog tentang isu-isu kekinian di salah satu Aula Perpustakaan Pusat kampusku. Kadang kala kami mengundang dosen untuk menjadi pemateri. Kegiatan ini cukup menarik minat mahasiswa dan cukup membantu untuk mencerdaskan mereka.

Peran kami yang cukup strategis di prodi, membuat kami tertarik untuk berkolaborasi membuat kegiatan tingkat fakultas. Pada peringatan Hari Kartini tahun 2007 kami mengadakan talk show tingkat fakultas dengan tema “Kartini di Era Globalisasi’. Lia bersama Ibu Helda (salah satu Dosen Poliban) menjadi narasumber, aku sebagai Hostnya. Menjadi host talk show membuat ku harus lebih aktif daripada narasumber untuk mengarahkan pokok pembahasan. Kegiatan ini kami adakan atas nama KSI sebagai penyelenggara. 

Kegiatan kami semakin padat, bahkan di hari minggu pun kami selalu ada kegiatan. Aku semakin jarang pulang ke rumah. Orang tua ku pun mulai mengeluhkan kegiatanku. Ketidak pulanganku ke rumah setiap hari minggu membuat ayahku marah. Aku pun menjadi tidak karuan karenanya, Lia begitu memahamiku. Dia melihat keresahan yang nampak dari raut mukaku. Tidak hanya dukungan moril yang ia berikan bahkan dukungan yang bersifat materi pun dia lakukan karena saat itu aku mendapatkan punishment dari orang tuaku. Aku selalu teringat suara khasnya ketika dia memanggilku “Ukhti…”. 

Kami terus melakukan pergerakan, dengan terlibat di BEM, BE-DEMA bahkan kami sama-sama aktif di organisasi keislaman eksternal kampus. Pada tahun 2008 aku pun juga terpilih menjadi Ketua HIMA Prodi PKn. Tidak terlalu sulit bagiku saat itu untuk memenangkan pemilihan itu, mengingat kegiatan kemahasiswaan dilingkungan prodi yang kembali hidup sejak KSI terbentuk dan citraku sebagai mahasiswa teladan yang diakui dosen, bukan karena aku tidak pernah bolos (aku sering absen kuliah karena adanya benturan jadwal kuliah dengan kegiatan organisasi) tapi karena keaktifanku di kampus dan nilai-nilaiku yang murni bukan hasil contekan dan tidak pernah memberi contekan, sebagai bentuk sikap keteladanan tuk mahasiswa yang lain, selain itu juga pemikiran-pemikiran kritis yang sering ku ungkapkan saat perkuliahan baik lisan maupun tertulis, tidak peduli apakah itu bertentangan dengan pemikiran dosen atau tidak selama itu menjunjung nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan terus kusuarakan. Aku pun terpilih menjadi Ketua HIMAPKn periode 2008-2009. Ini bukan suatu kemenangan bagiku, tanggung jawab yang besar menambah-nambah amanahku.
Sudah lebih dari 2 tahun aku dengan Lia menjadi 1 tim dalam halaqah. Dia mengingatkanku untuk jangan melalaikan amanah yang lain, dia sering melihat aku terlalu focus dalam satu amanah organisasi dan mengabaikan amanah yang lain. Kemampuanku memang sangat terbatas, saat itu dalam  genggaman amanahku ada 6 organisasi yang harus dijalankan. Meskipun semuanya bermuara pada satu tujuan memberikan penyadaran pada mahasiswa untuk bangkit berjuang memperbaiki keadaan negeri ini dengan kapasitasnya sebagai mahasiswa.

Aku bersama Lia seiring sejalan, diilandasi dengan kekuatan iman  dan pemikiran yang sama kami bergerak. Pernah kami saling menginap untuk menuntaskan satu amanah. Pernah kami sama-sama berfikir tuk bekerja menjadi tukang cuci piring di rumah makan untuk mendapatkan uang agar bisa pergi ke Jakarta mengikuti Konferensi Islam Internasional di Gelora Bung Karno (akhirnya kami pergi dengan cara kami masing-masing), kami yang sering makan sepiring berdua sebelum memulai halaqah, kami yang kadang rapat di malam hari tuk menyusun strategi,kami yang selalu saling memotivasi, saling mengingatkan dan saling mendo’akan. Kami pernah tertawa bersama, bersenda gurau untuk menghilangkan penat kerasnya pemikiran kami saat itu.

Pada tahun 2009 dia menikah dengan salah seorang Hafiz dari Amuntai yang kebetulan masih kerabatnya. Sejak saat itu aktivitasnya terbatas, kebersamaan kami tak seperti dulu lagi. Usai wisuda pada tahun 2009, Lia dan suaminya pun pindah ke Amuntai. Sejak itu kami tidak pernah lagi bertemu dan kontak kami pun terputus. Terakhir pada tahun 2011 aku bertemu dengan teman se kosnya, katanya Lia ada berkunjung ke kampus tapi saat itu aku sudah tidak aktif lagi di kampus dan dia sudah punya anak.

Sahabatku, kata-kata ini yang selalu menggerakkan kita : “Seandainya bukan karena Iman tidak akan ada Perang Badar, tidak akan ada perubahan, dan Islampun tidak akan tersebar di bumi. Maka pantaskah kita mengaku beriman sedangkan kita tidak melakukan perubahan”. Kalimat syahadat dan takbir yang selalu menguatkan dan menggelora di hati kita untuk terus bergerak dan berjuang untuk perubahan.

Semoga semangat itu tidak akan pernah mati, meski kadang layu. Semoga cahaya Allah itu selalu menaungi kita, meski kita kadang lalai. Semoga engkau mendapatkan keturunan yang shaleh dan shalehah yang akan membangkitkan dan memenangkan perjuangan itu. Karena perjuangan itu tidak akan pernah mati meskipun kita berhenti.

Senin, 21 April 2014

Tulang Rusuk, Bukan Tulang Punggung

[Meluruskan kembali makna Kartini Masa Kini]


21 April selalu  menjadi hari yang membanggakan bagi kaum perempuan. Dengan figure utama RA. Kartini, tanggal yang merupakan hari lahir beliau itu menjadi peringatan bagi perempuan untuk selalu memperjuangkan dan memperoleh hak-haknya setara dengan hak kaum lelaki atau yang biasa disebut dengan emansipasi.
Sejatinya, RA. Kartini berjuang agar kaum perempuan mendapatkan hak memperoleh pendidikan seperti halnya kaum laki-laki pada waktu itu. Perjuangan beliau bukan dititik tekankan pada keinginan beliau untuk memiliki hak yang sama persis dengan kaum laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Hal itu bisa dicermati dari surat-surat yang pernah beliau tulis.
Bagaimana dengan perempuan masa kini?
Hakikatnya perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki yang seharusnya selalu dijaga dan berada di sisi laki-laki. Mirisnya, atas nama kebebasan dan kesetaraan banyak perempuan yang tereksploitasi untuk berperan aktif di luar rumah, mengoptimalkan potensi dirinya tanpa batas demi meraih materi sebanyak-banyaknya. Saling berlomba untuk mendapatkan prestasi agar mendapatkan gelar hebat dan pengakuan dari masyarakat. Mereka itulah  yang biasa disebut dengan wanita karir.
Mereka lupa dengan hakikatnya untuk menjadi patner kaum laki-laki berbagi tugas untuk kelangsungan perkembangan kehidupan umat manusia. Kebanyakan kaum perempuan zaman sekarang memiliki keeinginan yang kuat untuk memiliki hak yang sama persis dengan hak kaum laki-laki untuk bekerja, memiliki kebebasan waktu di luar rumah, melakukan hal-hal yang sebenarnya hanya patut dilakukan laki-laki bahkan menginginkan laki-laki mengerjakan yang seyogianya lebih patut dilakukan oleh perempuan (misalkan mengurus rumah).
Apakah itu dibenarkan?
Kreativitas perempuan terutama bertujuan untuk menginspirasi kaumnya adalah suatu kemuliaan, seperti yang dilakukan oleh RA. Kartini yang menginspirasi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan sama seperti laki-laki yang sangat ditabukan pada masa itu. Perempuan adalah tiang Negara yang harus mengambil peran untuk perbaikan negeri ini. Bukan dalam hal maraih materi sebanyak-banyaknya untuk memakmurkan diri sendiri tapi memberi manfaat sebesar-besarnya untuk perbaikan generasi bangsa. Kiprah seperti ini bisa terimplimentasi dari tugas seorang perempuan dalam rumahnya, memberi dukungan terhadap suami dan memberikan pondasi pendidikan sejak dini kepada anak-anaknya. Peran inilah yang harus diutamakan kaum perempuan tanpa membatasi potensinya untuk berkiprah di luar rumah memberikan inspirasi atau pembinaan terhadap masyarakat sesuai dengan kadar potensinya. Kiprah itu dapat seiring, seimbang dilakukan ketika perempuan memahami betul akan pentingnya akan kebaradaan dan fungsinya di tengah masyarakat tanpa mengalahkan salah satu kiprahnya.
Semakin jelas bahwa aktivitas perempuan meraih materi sebanyak-banyaknya dengan melupakan kewajibannya di rumah dan melupakan perannya untuk perbaikan masyarakat adalah sebuah kemunduran kaum perempuan dan melenceng dari perjuangan RA. Kartini. Perempuan yang hanya membanggakan kemampuannya dalam meraih materi dan tidak mengasah pengembangan dirinya untuk mengabdikan diri menjalankan kiprah keperempuanannya hakikatnya telah menurunkan derajat kemuliaannya sebagai perempuan.
Pernyataan tersebut bukan tidak menghalalkan perempuan yang berkerja di luar rumah untuk menambah penghasilan keluarga atau membantu suami untuk menafkahi keluarga. Perempuan berkarir sah-sah saja, tentu dengan batasan yang harus dijaga dan norma yang harus dipatuhi. Tulisan ini hanya berusaha mengingatkan kita, tak selama-lamanya materi yang menjadi tujuan utama apalagi perempuan sebagai investasi masa depan tempat lahir dan tumbuh kembangnya generasi bangsa yang berkualitas.


Sabtu, 15 Maret 2014

Niat Baik Saja Tidak Cukup



Yuhuuuu.. akhirnya meluncur lagi di blog ini. Hmmm… beberapa waktu terakhir saya sempat galau. Apaaaaa???? Saya galauuuu???? Gawat neh…
Ya.. virus merah jambu itu memang benar-benar ‘virus’ ternyata, seketika saya hampir tak sadarkan diri karenanya. Virus itu hampir membunuh seluruh akal sehat saya. Ya, virus itu.. virus yang selalu di puja oleh kebanyakan manusia. Virus Merah Jambu alias Jatuh Cinta.
Bukan jatuh cinta namanya ketika tidak ada kekecewaan di dalamnya. Dan saya melewatinya dengan sempurna, tak hanya jatuh cinta tapi kecewa pun saya rasa kan 1 paket.

Sikap Yang Keliru
Sebagai muslimah dari awal saya menyadari bahwa jatuh cinta adalah sebuah penyakit ketika tidak disikapi dengan benar. Perwujudannya dalam pacaran jelas hal yang sangat di larang dalam Islam. Tapi atas nama cinta dan sebagai bukti  bahwa saya adalah sosok wanita yang normal akhirnya saya menjalani itu juga dengan harapan laki-laki ini adalah jodoh saya, saya ingin mengenalnya lebih dekat dan saya memilihnya untuk menjadi pendamping saya hingga akhir hayat. Saya hampir menapikan bahwa Allah lah yang punya kuasa atas manusia dan yang menentukan jodoh saya.
Sekian lama saya lewati hubungan ‘pacaran’ itu dengan harapan semakin lama menjalin, berjodoh dengannya pun semakin dekat. Saat  semua itu masih berjalan seakan Tuhan menunjukkan hal yang berkebalikan, akhirnya saya kecewa karena semakin jauh mengenal, hubungan itu pun semakin tidak jelas. Ditengah harap saya yang begitu besar tuk bisa menyempurnakan separuh iman dengannya, saya langsung merasa terbanting dengan kenyataan ‘apakah harapan itu benar-benar bisa terwujud?, sampai kapan saya harus menunggu?’. Well, namanya juga jatuh cinta, ‘jatuh’ = sakit. Sakit kan akhirnya.
STOP!!! Kok jadi curhat sihhh -_-
Saya hanya ingin berbagi cerita tentang kebanyakan insan yang sedang dibuai dalam percintaan. Terutama dalam jalur yang belum halal. Kebanyakan kita memang memiliki niat baik dalam proses ini, untuk saling mengenal supaya kelak berumah tangga dengan pasanganan kita gak kikuk dan intinya dalam proses analisa memilih pasangan kita menjadi jodoh kita seumur hidup sebelum pernikahan diselenggarakan. Kenyataannya, kebanyakan pacaran berakhir dengan kata ‘mantan’.
Yang mau saya ingatkan bahwa niat baik saja tidak cukup. Apa yang membuat saya galau?? Ketika saya menyadari bahwa niat baik saya untuk menjemput jodoh diiringi dengan perbuatan yang salah melalui pacaran alhasil saya kecewa. Kenyataan seperti itu tidak hanya saya mengalami, kebanyakan orang yang pacaran pasti kecewa. Gak percaya?? Coba deh yang pacaran diinget2 dulu…
Bahkan dalam segala aspek kehidupan setiap perbuatan tidak hanya cukup dengan niat baik saja. Contoh kecil ketika anda ingin membanggakan orang tua dengan ranking tinggi di sekolah tapi dari hasil contekan atau ketika anda berniat sholat tapi telinga anda tidak khusyu pada bacaan yang anda baca tapi konsen mendengarkan suara yang ada di sekitar anda. Bisa anda bayangkan sendiri hasilnya seperti apa.
Mari sahabat muslimah, sebelum kekecewaan itu terjadi pada kita luruskan lagi niat kita dengan perbuatan yang benar. Allah tak mungkin salah. Tinggal kita pelajari petunjuknya yang sudah ada dalam Al Qur'an dan Hadits. Niat Baik + Perbuatan Benar = Sempurna.